Search

Tulisan M. An'imna Husna

Berbagi Ide Untuk Kemajuan

Hikayat Seorang Ranu : 27 Desember 2017 (6)

Rabu, 27 Desember 2017

Hari itu berlangsung seperti biasa. Saya dari rumah tetap kontak dengan istri mengenai perkembangan Ranu. Istri memberi kabar bahwa Ranu harus kembali dipasang Ventilator (alat bantu nafas melalui tenggorokan), karena CPAP (alat bantu nafas melalui hidung) dirasa kurang memadai.

Kenapa harus dipasang ventilator lagi? Bukankah kemarin di Sarjito sudah terlepas, tidak dipasang kembali dan Ranu masih kuat? Bahkan hingga pulang ke rumah selama 5 hari.

Apakah ada masalah yang lebih jauh selain pneumonia ?

Istri kembali memberikan update kabar. Ranu mengalami oedem laring, tenggorokannya membengkak sehingga ventilator tidak bisa masuk. Dokter anak yang bertugas memberikan tindakan berupa nebulizer adrenalin agar tenggorokannya mau membuka. Akhirnya setelah diberikan nebu adrenalin, alat bantu nafas bisa masuk. Bukan ventilator yang selangnya masuk cukup dalam, melainkan LMA (Laringeal Mask Airway) yang ‘hanya’ sampai laring.

Sore hari sekitar jam 15.00, segera saya mandikan Giri dan memberitahukan Ibu mertua untuk bersiap. Giri sudah lumayan sehat, sudah mau makan, dan kembali ceria. Entah kenapa, sore itu ingin bergegas ke rumah sakit. Jam 16.00 lebih sedikit kami tiba di rumah sakit. Saya langsung naik ke ruang NICU untuk menjenguk Ranu. Saya minta tolong kepada Ibu Mertua untuk momong Giri dulu. Setiba di ruang NICU, istri sudah menunggu.

Masih teringat jelas ada jam dinding bundar yang diletakkan di pojok bed Ranu. Jam bundar itu menunjukkan pukul 16.15. Saya menanyakan istri bagaimana perkembangan Ranu hari ini. Ranu sedang tidur. Bibirnya memang lebih pucat. Terdiam. Istri menjelaskan kondisi Ranu hari ini, menjelaskan indikator-indikator yang ada. Ada indikator saturasi oksigen, ada indikator denyut jantung. Seperti di film atau sinetron, indikator denyut jantung bergerak dinamis sesuai irama denyut jantung.

Tak seberapa lama berada di ruang NICU, saya segera keluar karena khawatir kehadiran saya akan mempengaruhi sterilisasi ruangan. Saya ingin yang terbaik, Ranu lekas sembuh. Kami kembali turun ke lantai 1. Menemui Giri yang rewel karena ditinggal bapak dan ibunya.

Setiba di bawah, Istri mengajak Giri bermain. Sejak semalam, Giri belum bertemu ibunya.

Pukul 16.33, tiba tiba hape berdering. Ada telepon masuk dengan kode area 0274.

Ada sedikit keraguan untuk mengangkat telepon ini.

“Halo?”

“Pak, dengan keluarga adik Ranu? Mohon ke ruangan NICU sekarang,” suara tersebut agak serak. Telepon dari NICU tidak pernah memberikan kabar baik. Firasat saya mengatakan, ada hal buruk.

Segera saya menuju istri yang sedang bermain dengan Giri. Saya bilang ada telepon dari NICU, diminta ke atas. Air muka istri berubah. Istri mengajak Ibu mertua. Saya gendong Giri erat. Berusaha menenangkan diri.

Sepuluh menit kemudian, saya telepon istri. Tidak diangkat.

Saya coba telepon istri lagi. Terdengar suara terisak.

“Papah naik saja. Ibu sedang turun. Nanti Giri biar sama Ibu dulu”

Ibu berlari menghampiri, menangis, dan segera meraih Giri ke pelukan.

“Sing sabar ya le,”

Saya bergegas naik. Yang terburuk telah terjadi.

Ketika masuk ruang NICU, saya disambut oleh istri dengan mata sembab dan terisak. Perawat sedang membereskan peralatan. Ranu di bednya tertutup selimut.

Indikator di layar monitor yang tadinya secara dinamis menunjukkan denyut jantung, kini semua menunjukkan angka 0. Datar. Ranu sudah berpulang.

Innalillahi wainna ilaihi roji’uun

Saya mematung, memeluk istri. Tak tahu harus berkata apa.

“Ranu sudah berjuang Pah. Mungkin Ranu sudah lelah.”

Peluk istri sambil terisak. Saya berusaha menenangkan diri. Istri mematikan hape nya. Tidak ingin diganggu.

Saya minta izin keluar. Mengabari keluarga di Kediri. Pertama mengabari Mas Iwan dan Mbak Arwin, saudara kandung saya.  Selanjutnya menghubungi tetangga sebelah, meminta bantuan untuk mempersiapkan rumah untuk kedatangan para pelayat. Berlanjut menghubungi teman kuliah, Fajar, dan teman SMA, Niko. Saya hubungi Om Aziz yang telah tiba di Bandung. Kemudian teman sepermainan yang kini tinggal satu kota di Jogja, dia sedang berada di Jember. Saya hubungi partner bisnis, Arif. Saya hubungi orang terdekat satu per satu.

Selanjutnya mengurus administrasi kematian dan kepulangan. Perawat menanyakan apakah menggunakan ambulan atau mobil pribadi. Saya meminta untuk menggunakan ambulan saja. Kemudian apakah dimandikan di rumah sakit atau di rumah. Saya minta dimandikan di rumah sakit saja agar tiba di rumah tidak lagi riweuh.

Saya menuju ke lobi depan untuk menyelesaikan administrasi Ambulan di kasir, sekaligus ke ATM, mengambil uang untuk keperluan di rumah nanti. Saya pesankan Go Car untuk Ibu mertua dan Giri pulang, mereka pulang ke rumah lebih dulu.

Setiba kembali di ruang NICU, istri menyerahkan Surat Keterangan Kematian. Tertulis Ranu meninggal dunia pada pukul 16.50

Memandikan Ranu

Saya masih bisa menguasai diri. Perasaan masih datar. Bingung harus bersikap seperti apa, harus bagaimana.

Perasaan mulai berubah ketika Okta, teman kerja istri, datang ke ruang NICU. Okta meminta izin untuk melihat kondisi Ranu. Dia menyibak selimut yang membungkus tubuh Ranu, memperlihatkan wajah Ranu.

Ranu sudah mulai memucat. Mulai muncul bercak hitam di tubuhnya.

Saya tersedak, terhenyak, bergitu cepat perubahan pada tubuh bayi. Perasaan kalut mulai merasuk ke rongga dada.

Itu anakku.

Anakku yang kemarin masih bayi merah, gendut dan sehat.

Kini terbujur kaku, pucat dan mulai muncul bercak hitam. Dia adalah Ranu, yang kemarin menangis di rumah meminta mimik ibunya. Tangisan itu terdengar menggema. Tangisan khas Ranu, yang agak tertahan, tidak bisa kencang.

Dia adalah Ranu. Yang wajahnya penuh dengan beruntus merah. Yang hidungnya mancung, lebih dari kakaknya. Yang pipinya gembul.

Kini dia terbujur kaku.

Tiba tiba rasa sesal menyeruak deras, seperti air terjun.

Kenapa Ranu begitu cepat berpulang?

Kemarin Ranu selalu mandi dengan ibunya, saya belum sempat memandikan Ranu seperti dulu memandikan Giri. Mengangkatnya dari bak mandi, meletakkannya di handuk untuk kemudian memakaikan popok dan baju. Kemudian ditimang-timang.

Kenapa begitu cepat?

Saya belum sempat melakukan apa yang saya lakukan kepada Giri untuk Ranu. Rasa sesal ini sungguh menyakitkan, menusuk hati.

Setelah menunggu hampir dua jam sejak Ranu dinyatakan meninggal oleh dokter, perawat datang bersama pengrukti jenazah.

“Siapa yang akan menggendong?” tanya pengrukti jenazah.

“Saya”

Inilah kesempatan terakhir. Saya harus melakukan semuanya, sendiri.

Kami keluar dari ruang NICU menuju ruang forensik, turun melalui lift. Saya menggendong Ranu. Ini adalah kali terakhir saya menggendongnya.

Saya harus ada untuk Ranu, ini satu satunya kesempatan membayar hutang untuk Ranu. Saya mencoba mengatur ritme nafas, berusaha menenangkan dan menguatkan diri. Mencoba menepis rasa sesal yang menghunjam.

Kami berjalan menuju ruang forensik yang terletak di belakang RSA. Setiap hari saya melewatinya ketika mengantar istri, tetapi sekarang baru sadar fungsi dari ruangan ini.

Dingin. Hambar. Kosong. Hampa. Begitu aura dari ruangan ini.

Pada pengrukti jenazah, saya mengajukan diri untuk memandikan Ranu.

Ketika selimut yang menutupi tubuh Ranu dibuka semua, tangis saya pecah.

Saya menangis keras.

Saya tak kuasa menahan emosi melihat tubuh Ranu terbujur kaku. Seluruh badan gemetar, perasaan campur aduk. Saya peluk istri erat, bersandar. Saya meraung, menangis, menumpahkan semuanya. Perasaan ini tak terkatakan.

Istri kini berubah menjadi tenang. Menjadi momong saya yang terombang ambing, rapuh.

Saya melihat kembali ke Ranu. Dan saya melihat lagi ke istri. Memeluk istri. Saya menangis lagi. Tangisan saya makin keras. Makin meraung

“Ranu, maafin bapak” hanya itu yang bisa saya katakan. Maaf.

Tangis Makin keras. Makin tak terkendali.

“Papah yakin ngelanjutin mandiin Ranu?” tanya istri pelan

“Bapak harus mandiin Ranu. Ini kesempatan terakhir Bapak bisa memandikan Ranu. Bapak kemarin tidak sempat memandikan Ranu saat di rumah.” jawab saya sambil menangis.

Saya hela nafas panjang, mengusap air mata, berusaha menguasai diri. Saya pegang selang air, saya arahkan ke tubuh Ranu sesuai petunjuk pengrukti jenazah. Mulai dari kepala, ke sela leher, ke ketiak, ke tangan, ke perut, ke sela kaki dan turun. Ranu harus dimandikan sebersih mungkin. Terbayang sedang memandikan Ranu yang sehat, yang ceria.

Sambil terisak, saya mengambil sabun. Mulai menggosok badan Ranu dengan sabun. Saya gosok perlahan ke seluruh bagian tubuh, memastikan Ranu terseka dengan baik. Tidak ada sejengkal tubuh yang terlupa.

Badan Ranu pucat, memutih dengan bercak-bercak hitam di beberapa bagian. Matanya terpejam. Tubuhnya dingin.

“Bapak mandiin Ranu ya, yang bersih dan wangi,” saya elus wajah Ranu seolah dia membalas dengan senyum ceria.

Seperti memandikan Giri waktu masih bayi merah, saya tengkurapkan Ranu. Saya siram punggungnya dan usap dengan sabun. Tak boleh ada yang terlewat. Semua saya lakukan sendiri, seolah sedang memandikan bayi untuk nanti mengajaknya bermain.

Selesai proses memandikan, pengrukti jenazah menghamparkan kain kafan. Saya gendong Ranu yang telah bersih dan wangi, saya baringkan di atas kain kafan. Tak pernah terbayangkan saya harus melakukan hal ini.

“Bapak pakein baju buat Ranu ya. Bapak kemarin belum sempat. Ranu yang ganteng, habis ini pulang ke rumah sama bapak” bisik saya ke Ranu. mensugesti seolah memakaikan baju bayi kepada Ranu untuk selanjutnya ditimang, dieyong-eyong. Saya kecup keningnya.

Saya kembali menangis keras. Sadar bahwa ini kesempatan terakhir bisa memakaikan baju kepada anak kedua yang ganteng dan gendut. Namun kali ini bajunya berwujud kain putih yang seputih tulang. Kain kafan.

Rasanya sakit sekali.

“Ayo le. Habis ini kita pulang. Bapak gendong Ranu. Nanti kita main ya”

Sepanjang proses, istri menemani di belakang. Membelai punggung saya, memastikan saya tetap kuat , mencoba menenangkan.

Saya menyedekapkan tangan Ranu, kemudian membalutkan kain kafan hingga menutup sempurna keseluruhan tubuh Ranu sesuai dengan petunjuk dari pengrukti jenazah.

Secara spontan, saya bilang ke istri.

“Sayang, aku mau cetak foto Ranu yang paling ganteng. Coba minta tolong ke teman gizi.”

Saya ingin mengingat Ranu sebagai bayi tampan, merah dan sehat. Saya ingin para pelayat melihat Ranu ketika masih tampan, gendut dan berpipi montok. Kain kafan Ranu tak boleh kembali dibuka. Cukuplah fotonya disandingkan jasadnya ketika nanti di rumah. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.

Entah kenapa rasa posesif muncul begitu kuat. Tak ingin rasanya berpisah.

Bapak pengrukti jenazah mempersilakan saya berwudhu dan mensholatkan jenazah Ranu. Saya mengitari meja besar dari keramik, tempat dimana Ranu tadi dimandikan, untuk menuju keran air untuk wudhu. Pak Sunu, suami dari teman kerja istri, ikut mengambil wudhu. Bertiga bersama Bapak pengrukti jenazah, kami mensholatkan Ranu.

Setelah itu, saya menggendong Ranu selayaknya Bapak menggendong anaknya setelah selesai mandi.

“ayo le, kita pulang ke rumah ya”

Ranu telah terbalut kain kafan dengan sempurna. Dilapisi oleh kain jarik coklat. Pengrukti jenazah memandu untuk keluar menuju ambulan yang telah menunggu di lobi belakang RSA.

Bersama istri, kami masuk ke ambulan dan duduk di depan, sebelah sopir. Ranu berada di pangkuan saya. Ambulan bergerak perlahan, keluar dari rumah sakit menyusuri ringroad barat Jogja menuju jalan Godean. Menuju rumah. Istri tetap mengelus lengan saya dengan sabar. Tampak ada kekhawatiran dari ari mukanya.

Meski melewati rute yang biasa dilewati sepulang menjemput istri, perjalanan malam itu terasa sangat berbeda. Sesekali ambulan membunyikan sirine untuk meminta jalan. Detik demi detik itu masih terekam jelas.

Memasuki jalan godean yang padat dengan arus pulang kerja, ambulan menyalakan sirine. Alhamdulillah kendaraan menepi memberikan jalan.

Tiba di rumah, saya turun dari ambulan. Membopong Ranu dengan hati-hati. Saya tidak ingin dibantu, saya sendirilah yang harus menggendong Ranu.  Melangkah mendekati rumah, tenda sudah terpasang di halaman. Kursi sudah berjajar rapi. Tetangga, pak dukuh, dan rekan ronda sudah berkumpul di rumah. Melayat dan siap membantu. Saya terharu dengan solidaritas warga di kampung ini. Saya baru dua tahun pindah, namun rasanya seperti warga yang sudah lama menetap.

Memasuki rumah, perabot sudah dipindahkan semua. Lantai sudah digelari tikar. Sudut rumah yang sebelumnya ditempati meja kerja, kini sudah diganti meja sepanjang satu setengah meter dengan ketinggian rendah ditutup dengan kain jarik. Semua sudah dipersiapkan.

“Adeknya diletakkan disini mas,” pandu pak Dukuh.

Saya letakkan Ranu perlahan ke meja.

“Kamu sudah pulang ke rumah nak. Tenang yah” bisik saya pelan.

Setelah sejenak menenangkan diri, kini saatnya mengurus untuk pemakaman. Bapak dukuh menanyakan kapan Ranu mau dikebumikan. Adat di kampung ini adalah memakamkan jenazah setelah dzuhur hari berikutnya. Namun ternyata adat tersebut tidak berlaku untuk bayi. Kondisi tubuh bayi berbeda, perubahan kondisinya sangat cepat.

Pak dukuh menawarkan pilihan malam hari ini jam 9 atau besok pagi jam 8.

Saya bilang besok pagi, menunggu keluarga dari Kediri yang sedang dalam perjalanan. Mereka sama sekali belum pernah bertemu Ranu. Dalam rencana, memang keluarga Kediri datang ke Jogja setelah Ranu benar-benar sembuh. Emak saya memiliki masalah dengan Ginjal selama 3 tahun terakhir dan sering kambuh apabila didera banyak pikiran. Selama Ranu sakit, saya irit bicara kepada Emak. Informasi lebih banyak saya bagi ke Mas Iwan dan Mbak Arwin. Saya tidak ingin emak overthinking dan malah jatuh sakit. Tadi pun saya mengabari Bapak dan Emak terakhir, setelah berkonsultasi dengan Mas Iwan, bagaimana menyampaikan kabar ini kepada Emak.

Saya kemudian menyalami satu per satu para pelayat yang hadir. Bercerita kronologi singkat ranu. Berulang-ulang. Saya sudah lebih tenang.

Keluarga Pakde Bude istri dari Semarang pun datang. Mereka kebetulan berada di Jogja karena ada acara pernikahan saudara jauh.

Pelayat lain dari teman sekantor istri pun berdatangan, sekaligus membawa cetak foto Ranu yang telah dipigura. Ibu kepala instalasi gizi, datang dari Imogiri Timur, 30km dari tempat kami. Rasanya hangat di dalam jiwa mengetahui banyak yang peduli dengan tulus.

Malam makin larut, hujan turun makin deras.  Para pelayat sudah berangsur pulang. Saya tidur di ruang tamu, di dekat Ranu, sembari sesekali menelepon kakak untuk bertanya sudah sampai mana. Dari Kediri ada dua kendaraan yang berangkat, satu berisi Mas Iwan dengan keluarga bersama Bapak Emak. Kendaraan kedua membawa Mbak Arwin dan keluarga. Mereka lewat trenggalek – ponorogo – wonogiri untuk menghindari macet libur panjang sekolah di jalur utama kediri Jogja via Ngawi.

Di luar dugaan, partner saya dalam bisnis, Arif, ditemani Akbar dan Deris berangkat malam itu juga dengan kendaraan sendiri.

Paklik dari Sidoarjo juga berangkat malam itu juga naik bus.

Malam itu saya susah terpejam. Istri, Giri dan Ibu mertua sudah beristirahat. Bermacam pikiran bergejolak hingga pagi menjelang.

Kamis, 28 Desember

Pukul 5.45, keluarga Kediri tiba. Tidak lama kemudian, paklik tiba. Sedang Arif baru sampai Solo, terjebak kemacetan panjang di jalur utama ke Jogja via ngawi.

Pagi menjelang, hujan yang terus mengguyur sejak tengah malam perlahan mulai reda. Sempat ada khawatir bagaimana jika hujan turun terus-menerus. Bagaimana pemakaman Ranu nanti? Alhamdulillah tidak terjadi.

Pemakaman dilakukan pukul 08.00. Pelayat dari tetangga dan rekan kerja istri dari seluruh divisi di rumah sakit mulai berdatangan. Pukul 08.00, saat memberangkatkan telah tiba.

Berbeda dengan orang dewasa yang diusung dengan keranda, bayi cukup dibopong bapaknya. Paklik dari Sidoarjo menanyakan, siapa yang mau membopong Ranu. Saya bilang saya saja. Semua harus saya lakukan sendiri, ini kesempatan terakhir bersama Ranu.

Pemakaman berjarak kurang lebih 300m dari rumah. Saya memutuskan Ranu dimakamkan di sini. Bukan di Semarang tempat keluarga istri atau Kediri tempat kelahiran saya. Saya sudah tinggal di sini dua tahun. Lebih dekat untuk sewaktu-waktu berkunjung menjenguk makam Ranu. Berjalan menuju pemakaman, saya gendong Ranu. Dalam hati saya ajak Ranu bercanda. Bapak gendong Ranu ya Dik. Bapak antar Ranu untuk istirahat.

Memasuki komplek makam, saya dipandu menuju liang lahat Ranu. Makam bayi tidak sedalam orang dewasa, hanya satu meter. Setelah proses talqin, tiba saat dikebumikan. Kali ini saya lebih bisa menguasai diri. Pak Sunu menepuk punggung saya, memberikan dukungan. Pak Sunu tahu benar bagaimana saya kemarin. Mungkin khawatir akan terjadi seperti itu lagi, saya menangis lepas kendali.

Tapi tidak. Kali ini saya sudah bisa menguasai diri. Momen saya dan Ranu adalah kemarin. Saya bisa menyerahkan Ranu dengan tenang untuk dikebumikan. Saya membantu menaburkan tanah ke kubur Ranu, berlanjut mengais tanah untuk mengubur Ranu, menutup liang lahat Ranu. Hingga menancapkan pusara ke atas makam, saya lakukan sendiri.

Makam Ranu.jpeg
Paklik dari Sidoarjo, saya dan Bapak

Selamat beristirahat dengan tenang di sisi Allah SWT

Bersambung

Advertisements

Hikayat Seorang Ranu : RSA UGM (5)

“Bukannya kemarin sudah boleh pulang dari Sarjito berarti kondisi sudah membaik?” pikir saya.

Setelah berdiskusi dengan istri, saya memutuskan pulang. Saya WA Om Aziz yang masih berada di rumah, menanyakan apakah Giri bangun atau tidak. Bangun, tapi sudah digendong sama Om. Okelah, rumah aman terkendali. Saya memutuskan pulang.

Tiba di rumah, ternyata Giri rewel. Sama sekali tidak mau ditidurkan di kasur, selalu terbangun dan menangis kencang ketika dicoba ditaruh. Saya coba gendong, kemudian saya taruh. Ternyata benar. Masih menangis kencang. Sangat tidak biasa. Kalau sudah begini senjata terakhirnya hanyalah bertemu ibunya, nenen. Akhirnya saya, Aziz dan Giri kembali ke rumah sakit menjemput istri. Benar, giri baru bisa bobo setelah nenen.

Pagi jam 07.00, segera istri ke rumah sakit naik Gojek. Katanya dia mendapat WA dari perawat kalau Ranu akan dipindah dari ruang rawat inap ke NICU sesuai petunjuk dokter anak.

NICU? Lagi? Baiklah…

Saya, om, dan ibu mertua bahu membahu momong Giri di rumah sementara istri seharian full menemani Ranu di NICU. Mungkin karena sudah mengenal bau ibunya, Ranu menjadi gampang menangis ketika ditinggal. Minimal dia minta dielus supaya tenang. Bagi bayi dengan masalah pernapasan, menangis membuat napasnya semakin cepat. Sebisa mungkin dia harus ditenangkan agar bisa bernapas dengan baik.

Istri melapor lewat WA kalau di NICU RSA dia bisa menunggui Ranu di dalam ruangan. Maklum, satu ruangan NICU hanya diisi satu pasien, berbeda dengan ruangan Intensive Care Sarjito yang satu ruangan bisa ditempati 5 bayi.

Malam itu Om Aziz akan kembali ke Bandung. Om mengajak makan malam bareng sebelum berangkat naik kereta. Saya WA istri, mengajaknya keluar RS sebentar ikut makan malam. Istri pun oke. Ba’da maghrib kita menjemput ke RS. Awalnya ingin makan sop buntut Bu Cokro, namun ternyata telah habis.

Akhirnya kita makan malam di Eastern Kopitiam. Restoran itu menyajikan masakan melayu seperti laksa dan nasi ayam hainan. Istri hanya memesan bakso karena tadi sudah makan di rumah sakit. Berbeda dengan Hermina dan Sarjito, ibu pasien bayi di RSA memperoleh jatah makan.

Hal paling membahagiakan di malam itu adalah akhirnya Giri mau makan. Dia bisa menghabiskan 3 butir bakso dan mau makan nasi setelah seharian hampir tidak mau makan sama sekali. Entah karena rasanya yang cocok atau karena sariawannya sudah membaik.

Setelah makan, kita mengantar om ke Stasiun Tugu. Malam itu kami bisa beristirahat dengan tenang. Giri bisa tidur pulas karena sudah kenyang, tidak gampang terbangun saat tengah malam. Kami pun berdoa semoga kondisi Ranu stabil di NICU RSA.

Selasa, 26 Desember 2017

Daycare Giri sudah libur. Hari ini Giri diasuh oleh saya dan Mbah. Istri berangkat naik gojek ke rumah sakit. Kami bagi tugas lagi.

Menjelang siang, ada WA masuk dari istri. Ranu tiba-tiba sempat drop. Detak jantung menurun dari 130 detak per menit menjadi 60 per menit. Saat kejadian, istri sedang berada di dalam ruangan, mengobrol bersama perawat. Perawat pun kaget dan panik karena sebelumnya Ranu stabil-stabil saja. Perawat segera memberikan tindakan pertolongan. Alhamdulillah masih terselamatkan. Dokter anak pun diberi laporan lewat telepon karena masih cuti bersama.

Barangkali, seperti itu pula kejadiannya ketika Ranu henti jantung di Hermina. Terjadi secara tiba-tiba.

Sejak kejadian tersebut, istri memutuskan stay di rumah sakit. Dia tidak mau jauh dari Ranu. Ranu membutuhkan perhatian penuh. Okelah, Giri sudah membaik dan ada mbahnya disini membantu.

Ranu RSA.jpeg
Ibu dan Ranu di RSA

Sore hari, setelah Giri mandi, kami berangkat ke RSA menjenguk Ranu. Jam besuk di RSA adalah pukul 16.00 – 18.00. Di perjalanan, kami banyak mampir untuk membelikan titipan istri. Mulai dari membeli minyak telon dan plastik ASI, kemudian masih mampir ke laundry. Sore itu kami sekaligus mengantarkan peralatan menginap untuk istri. Ada ruang inap tunggu bagi para keluarga pasien yang dirawat di ICU sehingga istri bisa beristirahat di sana. Saya packing kebutuhan istri, baju untuk 2 hari, peralatan mandi, selimut, dan karpet rasfur.

Setiba di rumah sakit, istri sudah menunggu. Saya persilakan ibu mertua untuk menjenguk karena belum bertemu lagi dengan Ranu semenjak masuk ke RSA. NICU berada di lantai 3, sementara saya bermain bersama Giri di bawah, menunggu di kantor istri di Instalasi Gizi.

Kami pulang selepas magrib. Selepas Giri nenen dengan ibunya agar nanti malam tidur di rumah lebih mudah.

Malam ini, istri tidur di rumah sakit. Dia benar-benar tidak ingin berpisah dari Ranu. Mungkin ini adalah firasat.

Hikayat Seorang Ranu : Rumah (4)

Adalah lanjutan dari : Hikayat Seorang Ranu : Sarjito (3) Continue reading “Hikayat Seorang Ranu : Rumah (4)”

Hikayat Seorang Ranu : Sarjito (3)

ranu pindah.jpeg
Di ambulan saat dirujuk menuju Sarjito

Adalah posting lanjutan dari : Hikayat Seorang Ranu : Hermina (2) Continue reading “Hikayat Seorang Ranu : Sarjito (3)”

Hikayat Seorang Ranu : Hermina (2)

Adalah posting lanjutan dari : Hikayat Seorang Ranu : Kehamilan (1)

Continue reading “Hikayat Seorang Ranu : Hermina (2)”

Hikayat Seorang Ranu : Kehamilan (1)

Februari 2017

“Pah, kayanya aku kok telat ya” Continue reading “Hikayat Seorang Ranu : Kehamilan (1)”

Presentasikan Ide Bisnismu di Pitchbox #KejarAmbisiku Tri di Jogja

poster-kejar-ambisiku-jogja

Kamu seorang CreativePreneur?

Presentasikan idemu di PitchBox #KejarAmbisiku yang diselenggarakan di Jogja Expo Center tanggal 16-18 September 2016

Event #KejarAmbisiku ini adalah Kompetisi pengembangan bisnis creativepreneur muda Indonesia. Tri memberimu kesempatan untuk mempresentasikan ide bisnis kreatif mu selama 10 menit melalui video conference dengan dewan Juri di Jakarta.

5 terbaik akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti BootCamp, yaitu mentoring dan coaching untuk berkompetisi di tahap selanjutnya, yaitu memperoleh dukungan dari Tri Indonesia. Dukungan berbentuk inkubasi dan FUNDING agar bisnismu menjadi nyata dan menggurita.

Kenapa harus ikut #KejarAmbisiku?

Saya dulu selama mahasiswa rajin mengikuti kompetisi wirausaha, mulai dari BisPlan Competition Jurusan, PKM Kewirausahaan, Wirausaha Muda Mandiri, YBC Sosro, dst. Ketika ada kesempatan ikut lomba, selalu saya ambil. Menang bukan target utama.

Saat lomba, saya suka memperhatikan ide bisnis peserta lain. Sering saya kagum dengan ide yang benar-benar out of the box. Berlanjut dengan ngobrol dengan sesama peserta saat menunggu sesi presentasi, saling berbagi cerita membuat semakin bersemangat untuk berbisnis.

Ketika presentasi, kemampuan mengkomunikasikan ide diuji. Apakah dewan juri bisa menangkap ide besar bisnis saya? Apakah penyampaian saya sudah bagus? Di sesi tanya jawab, Saya memperoleh feedback objektif dari para juri (yang merupakan pakar) secara gratis. Beberapa feedback tak pernah terfikirkan sebelumnya, namun ternyata penting banget.

Tertarik?

Ayo ikut. Kamu cukup memresentasikan idemu, tak perlu business plan yang tebal. Nothing to lose.

Ada juga talkshow dan workshop yang bisa kamu ikuti seusai sesi pitchbox, semua gratis!

Silakan daftar dengan isi form dibawah. Kuota hanya 71 peserta. Per hari jumat, 9 September jam 19.00, sudah mendaftar 22 peserta.

FAQ

Q : Bagaimanakah format pitchbox #KejarAmbisiku ini?

A : Formatnya adalah kamu presentasi (pitching) ide bisnismu melalui video conference dengan juri di Jakarta. Kamu memiliki total waktu 10 menit, 7 menit pitching dan 3 menit tanya jawab.

Q : Apakah perlu mempersiapkan slide powerpoint?

A : Slide bersifat opsional. Maksimalkan dengan mempresentasikan idemu secara lisan. Jika memiliki prototype, contoh produk atau demo produk, silakan dibawa.

Q : Setelah saya isi form, selanjutnya bagaimana?

A : Tim panitia akan menghubungimu untuk memberitahukan nomor urut pitching. Pitching akan diselenggarakan selama 3 hari dari tanggal 16-18 September 2016. Kamu akan memperoleh jatah presentasi di antara hari tersebut

Q : Bisakah saya mendaftar On The Spot?

A : Peserta pitchbox dibatasi hanya 71 peserta. Ketika quota penuh, maka pendaftaran ditutup. UPDATE JUMAT, 9 September : Sudah 22 peserta terdaftar. 

Grab your seat

Q: Apakah lomba ini hanya berlaku untuk perseorangan?

A : Lomba ini terbuka untuk tim dan individu. Apabila kamu tim, saat pitching maksimal hanya bisa 2 orang. Di pendaftaran, cukup daftarkan nama ketua Tim.

Q : Apakah ada biaya untuk mengikuti program ini?

A : Tidak. Biaya ini gratis sebagai persembahan dari Tri.

Ada pertanyaan lain? Silakan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar 🙂

Form Pendaftaran

 

Tiga Langkah Untuk Lebih Aman dalam Internet Banking dan Transaksi Online

Menjelang lebaran, tiba-tiba ada seorang rekan yang share mengenai kejadian pembobolan internet banking

Awalnya, saya menganggap biasa kejadian ini. Paling ya teledor. Sebagai pelaku bisnis online sejak 2010, sejauh ini Continue reading “Tiga Langkah Untuk Lebih Aman dalam Internet Banking dan Transaksi Online”

Enam Pelajaran Menumbuhkan Bisnis Dengan Cepat : Pembelajaran Dari Magnivate Dan First Travel

Pasangan Suami Istri Founder First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Devitasari 

Ada dua perusahaan yang sangat menarik karena pertumbuhan yang luar biasa cepat. Perusahaan pertama adalah first travel, biro perjalanan umroh yang didirikan oleh Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan. First Travel berdiri pada tahun 2009 dalam bentuk CV, melayani tour palugada, apa lu minta gua ada. Baru pada tahun 2012, First Travel fokus pada tour umroh. Di tahun 2014, First Travel berhasil memberangkatkan 14.700 jamaah umroh ke Makkah.[1] Sebuah prestasi mengagumkan dari Continue reading “Enam Pelajaran Menumbuhkan Bisnis Dengan Cepat : Pembelajaran Dari Magnivate Dan First Travel”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: