Saat ini saya sedang mengikuti SME Guidance Competition 2010, satu dari rangkaian lomba kegiatan UKM CSR Goes to Campus. Mahasiswa ditantang untuk melakukan pendampingan UKM selama 1 bulan untuk memecahkan permasalahan UKM. Lomba dimulai dengan mengirimkan esay komprehensif yang membahas aspek manajerial, identifikasi masalah beserta rekomendasi solusinya. 10 tim dengan esay terbaik akan melanjutkan ke babak pendampingan . Tim yang terdiri dari saya, Arif Kurnia Putra H dan Wasis Susetyo bermitra dengan UKM Curug Gentong, kerajinan tangan berbentuk miniatur air terjun di dalam gentong. Tim kami berhasil lolos ke babak 10 besar.

Curug Gentong
Kerajinan Curug Gentong

Fokus kami adalah membenahi pemasaran online. Dari wawancara mendalam dengan pemilik UKM Curug Gentong, Ibu Ritta Apriyanti, beliau pernah memiliki pengalaman buruk dalam pemasaran online. Pernah ada satu perguruan tinggi menawarkan bantuan untuk membuat sebuah Toko Online untuk UKM di Depok. Beliau tertarik dan setuju bekerjasama. Toko Online pun terbentuk, berbagi dengan produk UKM lain. Ibu Rita mempromosikan toko online tersebut dengan mencantumkan di kartu nama UKM Curug Gentong.

Seiring waktu berjalan, UKM Curug Gentong menghasilkan produk-produk dengan model baru. Ibu Rita ingin mengupdate daftar produk di Toko Online. Saat menghubungi mahasiswa yang membantu penyusunan toko online, ternyata mereka sudah memiliki kesibukan lain. Tak lama berselang, website tersebut tidak bisa diakses, menghilang dari dunia maya. Para konsumen mengkomplain, kenapa alamat website di kartu nama beliau tidak bisa dibuka. Peluang pembelian produk pun melayang.

Belajar dari kejadian tersebut, Ibu Rita bercita-cita bisa mengelola toko online secara mandiri. Kami berusaha membantu. Dengan pengalaman mengelola EurekaTour dan EurekaPrivat serta beberapa pengamatan praktek pemasaran online, kami mengusulkan solusi yang dikemas dalam e-Selling, yaitu pendekatan untuk meningkatkan volume penjualan produk melalui media internet yang bisa dioperasikan oleh pelaku UKM secara mandiri. Pendekatan ini dibangun atas tiga prinsip utama  : Murah,  Mandiri,  Menjual (3M). e-Selling tidak mensyaratkan transaksi jual beli melalui internet. Positioning internet hanya sebagai media promosi perusahaa dan display produk online. Fokus utamanya adalah membangun kepercayaan calon pembeli agar terjadi penjualan.

Pendekatan e-Selling dilatarbelakangi dua hal. Pertama, kepercayaan masyarakat Indonesia dalam melakukan transaksi online masih rendah. Calon pembeli memerlukan proses untuk mempercayai penjual. Hal tersebut sukar dinilai langsung dari website. Pendekatan e-Selling memberikan ruang interaktif antara calon pembeli dan penjual. Di display online, tercantum kontak telepon, email dan YM yang bisa dihubungi. Lebih mudah lagi jika penjual pernah diliput oleh media, seperti Ibu Rita. Hal tersebut bisa menjadi jaminan bagi pembeli.

Kedua, pelaku UKM seringkali adalah single fighter. Pembagian tugas dan sistem masih tersentral ke satu individu. Mereka menjabat berbagai posisi sekaligus.  Ada banyak hal yang harus mereka lakukan dalam 1 hari. Ibu Rita tidak bisa hanya duduk di depan komputer / laptop menunggu notifikasi order. Beliau lebih suka menerima order melalui kontak telepon / HP karena lebih fleksibel. Selama beliau memegang handphone, maka beliau bisa melayani calon pembeli.

Sekilas, cara ini tampak inefisien. Kenapa tidak menggunakan software e commerce seperti zen cart atau webassyst? Izinkan saya bertanya kepada Anda, adakah website indonesia yang menggunakan software tersebut dan berhasil membukukan nilai penjualan puluhan juta per hari? Apakah mayoritas masyarakat Indonesia mengerti cara pembelian seperti itu? Selanjutnya, berapa besar populasi pembelanja internet yang memiliki kartu kredit? Bagaimana dengan reputasi Indonesia dengan tingkat phising tertinggi nomor 9 di dunia?

Pendekatan e-Selling ini sebenarnya bukan hal baru. Ini adalah kristalisasi dari pengamatan blog dan website yang berhasil meningkatkan volume penjualan. Salah satu inspirasi adalah FJB Kaskus. Para penjual tidak menggunakan software canggih, cukup membuka lapak (thread) yang berisi foto produk, deskripsi, harga dan kontak yang bisa dihubungi. Ada yang berkomentar dengan menawar harga, memberikan testimonial “Recomended Seller” atau bertanya lebih lanjut tentang produk . Jika deal, transaksi biasanya dilakukan melalui COD (Cash On Delivery) atau transfer bank. Tidak ada arus kas pembayaran melalui internet. Sistem ini berjalan dan diperkiran menghasilkan perputaran puluhan juta per hari. Sayangnya, Kaskus tidak memiliki data resmi mengenai nominal transaksi harian karena memang tidak campur tangan dalam transaksi pembayaran.

Target panduan eSelling untuk menciptakan jalur pemasaran baik Business to Consumer (B2C) atau Business to Business (B2B). Pemasaran B2C untuk konsumen yang langsung menggunakan produk. Pemasaran B2B dengan memberi penawaran menjadi reseller dengan membeli produk dalam jumlah tertentu. Inspirasi ide ini datang dari distributor online boneka horta, hortadoll.blogspot.com. Pemiliknya adalah teman saya di CEDS UI, Yoga Rokhmana dari FKM 07. Dulu saya pernah menganggap remeh, bisnis kok pakai blog. Dimana kredibilitasnya? Makeover tampilan juga sangat terbatas. Mana bisa menjual? Tapi kini saya mengaku salah besar. Melalui blog tersebut, Yoga Rokhmana berhasil membukukan penjualan 40 juta per bulan. Saya belajar, penampilan bukan hal terpenting. Pelayanan saat calon pembeli menghubungi penjual, di situlah titik paling penting.

<bersambung..,>

Advertisements